Memuat...
0

Yang AKU HARAPKAN!!!

Segenap kusadar ketika kau dihadapku…
Tersenyum membelay halus kebahagiaan….
Bercerita dengan semangat menggoda
Cerminkan kebahagiaan tiada tara..
Gambarkan janji manis kita…
Untuk saling bersama selamanya
Dengan persahabatan yang slalu kita bina
Bersama keluarga yang kita cinta…
Ketika pertemuan membawa perpisahan…
Penyesalan tiada guna tercerminkan…
Harapan kebersamaan selamanya sirna…
Sisakan setetes kenangan embun pagi…
Ketika pagi pergi…
Aku harap kau ingat akan diriku
Ketika pagi datang…
Aku harap kau Bahagia di hidupmu
Yang Aku Harapkan Selalu…
“Kau selalu ingat akan diriku Persahabatan yang telah terjalin Akan selalu kita bina untuk selamanya karena persahabatan ini yang terbaik…”
Special for Nur'Adhadinia
0

Perbedaan Karangan non ilmiah, semi ilmiah dan ilmiah.txt

Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb. Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi panulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen. Karakteristiknya : berada diantara ilmiah.

Kornet (jenis daging olahan)

Kornet
Kornet merupakan salah satu jenis daging olahan yang berupa daging giling kasar dengan bahan tambahan bahan pengisi dan bahan pengikat serta bumbu-bumbu (Subyantoro, 1996). Menurut Dewan Standarisasi Nasional (1995), kornet umumnya dibuat dari daging sapi, dalam pembuatan kornet daging yang digunakan merupakan potongan daging segar atau beku (yang telah memenuhi persyaratan dan peraturan yang berlaku), boleh dicampur dengan daging bagian kepala dan hati. Hadiwiyoto (1983), menyatakan bahwa kornet merupakan hasil olahan daging sapi dengan kentang sebagai bahan pengikat, serta bumbu-bumbu berupa bawang merah, kaldu, garam, merica dan natrium nitrit.
Bawang merah biasanya digunakan sebagai penyedap sehari-hari yang sangat disukai karena memiliki aroma yang khas. Bau dan citarasa yang khas pada bawang merah disebabkan oleh adanya senyawa yang mudah menguap dari jenis sulfur seperti propil sulfur (Sunarjono, 1995). Merica atau lada biasa ditambahkan pada bahan makanan sebagai penyedap karena memiliki dua sifat yang penting yaitu rasanya yang pedas dan aromanya yang khas. Kedua sifat tersebut disesbabkan kandungan bahan-bahan kimia organik yang terdapat dalam merica. Rasa pedas dalam merica disebabkan oleh zat piperin, piperanin dan khasivin yang merupakan persenyawaan dari piperin dengan alkaloida (Zaitsev et al., 1969).
Metode dan Materi Pembuatan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daging segar, nitrit/sendawa, garam, gula pasir, merica halus, pala halus, tomat segar, susu full cream, dan bawang merah. Alat-alat yang digunakan yaitu panci press cooker dan spatula.
Proses Curing (penggaraman)
Daging sapi dipotong-potong tidak perlu dicuci. Daging sebanyak 1 kg, garam sebanyak 30 gram, 20 gram gula pasir dan 5 gram sendawa dicampur pada wadah hingga merata. Daging yang telah dicampur, didiamkan selama 24 jam agar penggaraman dapat meresap dan merata. Proses ini dinamakan Curing Kering.
Pembuatan cornet beef
Daging yang telah di curing, di cuci dengan air hingga bersih (berulang kali) agar sendawa tidak terlalu menempel banyak pada daging tersebut kemudian daging direbus menggunakan press cooker dengan penambahan merica dan pala (± 20-30 menit). Setelah daging empuk, air rebusan yang masih banyak dibuang sebagian lalu ditambahkan susu, potongan tomat dan bawang merah halus. Aduk hingga kering. Kornet siap untuk dihidangkan.
Pembahasan
Daging segar yang dibuat menjadi kornet, sehari sebelumnya dicuring terlebih dahulu. Tujuan dari curing adalah untuk memberikan warna merah cerah (pink) pada produk kornet yang dihasilkan. Bahan-bahan curing memiliki fungsi masing-masing. Menurut Kramlich (1973), garam dapur berfungsi untuk meningkatkan daya ikat air dari protein dan pembentukan emulsi serta sebagai bahan pengawet karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Nitrit atau sendawa yang ditambahkan memiliki fungsi untuk menstabilkan warna dan menghambat pertumbuhan bakteri. Gula diberikan untuk memodifikasi rasa dan dapat sebagai pengawet (Soeparno, 1988).
Setelah proses pemasakan selesai, dilakukan uji hedonik dengan jumlah panelis sebanyak 51 orang. Parameter yang diuji yaitu bau, warna, penampilan umum, rasa, tekstur, dan keempukan. Setiap parameter juga memiliki nilai uji hedonik yang bervariasi.
Pada uji bau, panelis menyukai bau dari kornet ini dengan nilai 20,9%. Bau yang ditimbulkan kornet berasal dari bumbu yang ditambahkan. Bumbu seperti bawang merah biasanya digunakan sebagai penyedap sehari-hari yang sangat disukai karena memiliki aroma yang khas. Bau dan citarasa yang khas pada bawang merah disebabkan oleh adanya senyawa yang mudah menguap dari jenis sulfur seperti propil sulfur (Sunarjono, 1995). Aroma yang ditimbulkan oleh biji pala pun tidak kalah khasnya dengan bawang merah.
Warna kornet ini pun disukai oleh panelis dengan nilai 21,9%. Warna yang ditimbulkan berasal dari hasil proses curing. Proses curing memiliki tujuan memberikan warna merah cerah pada kornet, walaupun warna kornet yang sebenarnya adalah merah tua tetapi tidak membuat panelis tidak menyukainya karena warna pada produk pangan diukur secara objektif. Warna merupakan sifat produk pangan yang paling menarik perhatian konsumen dan paling cepat memberikan kesan disukai atau tidak (Soekarto, 1990).
Panelis menilai rasa kornet ini netral dengan nilai uji 27%. Hal ini dikarenakan rasa kornet yang dibuat tidak sama dengan kornet yang dijual dipasaran. Menurut Forrest et al (1979), rasa dan aroma produk daging berasal dari sejumlah bahan yang ada dalam lemak dan bersifat menguap ketika dipanaskan. Surjana (2001) menyatakan bahwa rasa yang menentukan penerimaan konsumen yaitu tingkat kegurihan, keasinan dan rasa daging.
Testur juga dinilai netral oleh panelis dengan persentase nilai uji 29%. Tekstur yang dihasilkan kornet ini tidak sama dengan kornet dipasaran, kornet yang dibuat memiliki tekstur seperti serat-serat yang kasar dan ketika dikunyah, teksturnya kurang enak dilidah. Namun keempukan ketika dikunyah disukai oleh para panelis dengan persentase 21,5%. Lamanya proses pemasakan dan perebusan menghasilkan kornet yang empuk. Penampilan umum kornet ini dinilai netral oleh panelis dengan 26,8% persentase nilai uji. Karena secara umum kornet ini memiliki penampilan yang baik dengan aroma yang enak dan rasa yang juga nikmat.

Original Writed By:
Nur'Adhadinia G2, 44 Generation Faculty Of Veterinary Science Produce and Tekhnologi Ranch Bogor Of Agriculture Institute
Posting By: Lutfi Almubarok

Follow Me